Pengikut

Trafik



Site Meter
Tampilkan postingan dengan label Teknik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik. Tampilkan semua postingan

Okulasi TEKNOLOGI

Written By Fokus Agrobisnis on Sabtu, 18 Februari 2012 | 20.40

OKULASI


Okulasi adalah menempelkan mata tunas tanaman lain kepada batang muda dan dari varietas yang sama, atau antara varietas dalam species. Dengan okulasi sifat-sifat baik dari kedua tanaman (batang bawah dan mata tunas dari batang lain disatukan).





1. Syarat-syarat tanaman batang bawah
  • Mempunyai pertumbuhan yang baik dan perakaran yang kuat.
  • Tahan terhadap kekurangan dan kelebihan air.
  • Berasal dari tanaman yang subur serta tahan terhadap penyakit.
  • Sehingga dapat hidup bersama (compatible).
  • Bibit yang berasal dari biji nuselus dijadikan batang bawah, Seperti Mangga, Belimbing, Lengkeng, Jeruk Rough Lemon (RL) atau Japanesche Citroen (JC), dll.
  • Jenis jeruk ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu penyebaran.
  • Akar dalam tanah cukup lugs, baik secara lateral maupun vertikal.
  • Mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap kekeringan.

  1. Cabang untuk mata tempel yang sesuai untuk okulasi.
  2. Batang bawah yang sudah dikelupaskan kulitnya dan dipotong.
  3. Mata tempel yang sudah jadi.


2. Penyemaian dan pemeliharaan benih batang bawah
  • Penyemaian benih dilakukan dalam bak persemaian atau bedengan.
  • Media persemaian, merupakan campuran pupuk kandang dan pasir yang telah diayak dengan perbandingan 1:1.
  • Media persemaian sudah disuci-hamakan baik secara kimia maupun fisik dan belum pernah ditanami.
  • Persemaian diberi naungan plastik yang dapat dibuka atau ditutup.
  • Setelah benih ditanam di persemaian, disiram setiap hari agar tidak kering.
  • Pemupukan dengan NPK diberikan dengan takaran 2 gr/liter air disiramkan merata.
  • Lakukan pengendalian jika terdapat serangan hama/penyakit.
  • Setelah batang bawah berumur 6 bulan sudah dapat disambung atau diokulasi.

3. Syarat-syarat tanaman batang atas

  • Berproduksi tinggi/berbuah banyak.
  • Bentuk buah baik/sempurna dan rasanya enak.
  • Tahan terhadap hama dan penyakit.
  • Digemari oleh banyak orang karena mempunyai sifat-sifat unggul.
  • Ranting/cabang yang baik berbentuk bulat dan silendris.

4. Peralatan dan bahan-bahan yang perlu disiapkan


  • Pisau okulasi yang tajam dan bersih.
  • Tali plastik atau rafia untuk mengikat mata tempel ke batang bawah.
  • Kain lap untuk membersihkan batang pangkal bawah.
  • Gunting pangkas untuk membuang tunas-tunas liar.




5. Cara kerja

  • Pangkal bawah pohon yang akan ditempel terlebih dahulu dibersihkan dengan kain lap.
  • Kira-kira 20 cm diatas tanah, kulit pohon pangkal bawah dipotong melintang atau diiris seperti bentuk huruf U terbalik.
  • Sebelah kiri dan kanan potongan/irisan kulit dikorek ke bawah dengan ujung pisau sepanjang 3 cm.
  • Bagian kulit yang telah dipotong dan ditoreh itu kemudian diangkat dan dikelupaskan ke bawah sepanjang 3 cm.
  • Kira-kira 2/3 bagian dari kulit yang telah dikelupaskan tadi dipotong dan sisanya yang 1/3 lagi digunakan untuk menjepit kulit mata yang
  • akan ditempelkan.
  • Setelah cabang/dahan untuk batang atas tersedia, mata tunasnya segera disayat dari dahan tersebut. Kulit dahan bermata tunas
  • (eritris) diiris tipis-tipis beserta kayunya sepanjang 3 cm, kemudian dipotong.
  • - Irisan kulit bermata dicongkel dan dilepaskan dengan ujung pisau. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, jangan sampai kulit rusak, robek atau kotor.
  • - Kulit tempelan segera diletakkan pada celah batang bawah yang telah disiapkan hingga benar-benar pas dan dijepit dengan bagian kulit yang disisakan. Cara menaruhnya jangan sampai terbalik.
  • Setelah kulit calon batang atas menempel, tempelan tersebut harus segera diikat. Cara mengikatnya dari bawah ke atas, kira-kira 1 cm diatas tempelan. Mata tunas jangan tertutup oleh tali pengikat tetapi harus tersembul.
  • Setelah 3 minggu sejak penempelan tali ikatan dibuka dan tempelan diperiksa. Apabila keadaannya tetap hijau segar, berarti tempelan berhasil, tetapi bila warnanya coklat atau kuning, berarti penempelan gagal.
  • Apabila tempelan berhasil, batang bawah dilengkungkan atau dipatahkan pada ketinggian 2-3 cm diatas tempelan. Hal ini dimaksudkan agar mata tunas tempelan dapat tumbuh tanpa disaingi oleh tunas-tunas lain.
  • Apabila tempelan tidak jadi masih dapat dibuat tempelan lagi pada tempat yang lain, misalnya di bagian samping atau belakangnya.
  • Setelah tempelan berhasil menjadi tanaman baru dan keadaannya sudah cukup dewasa (jumlah cabang dan ranting cukup serta berdaun banyak untuk berasimilasi) batang yang dilengkungkan atau dipatahkan tadi dipotong miring dan dibuang.
  • Bekas potongan harus dilumuri atau ditutup dengan parafin atau cat.
  • Beberapa lama kemudian tanaman dapat dipindahkan ke dalam kantong plastik hitam (polybag) dan diisi tanah yang dicampur pupuk secukupnya, disirami setiap tanahnya keying.
  • Bibit yang sudah cukup besar dalam kantong plastik siap untuk dipasarkan.






Dari : pustaka-deptan.go.id
20.40 | 0 komentar | Read More

Permasalahan pada kultur jaringan

Written By Fokus Agrobisnis on Kamis, 16 Februari 2012 | 20.37

Dalam kegiatan kultur jaringan tidak sedikit masalah yang dapat muncul sebagai penghambat. Biasanya penghambat muncul dari bahan yang ditanam, lingkungan kultur, maupun manusia yang melakukan.

Masalah-masalah yang sering terjadi dalam kultur jaringan antara lain :

1. Kontaminasi
Kontaminasi adalah gangguan yangsangat umum terjadi dalam kegiatan kultur jaringan. Fenomena kontaminasi sangat beragam, dapat dilihat dari jenis kontaminasinya (bakteri, jamur, virus dll)

2. Pencoklatan
Pencoklstsn (browing) adalah suatu keadaan dimana muncul warna coklat ataau hitam yang menyebabkan tidak terjadi pertumbuhan dan perembangan pada eksplan. Pencoklatan umumnya merupakan tanda akan adanya kemunduran fisiologi eksplan biasanya eksplan akan mati.

3. Vitrifikasi
Biasanya ditandai dengan :
a. terjadinya pertumbuhan yang tidak normal
b. tanaman yang dihasilkan pendek atau tidak normal
c. pertumbuhan batang cenderung ke arah perbesaran diameter
d. tanaman utuhnya menjadi sangat turgescent
e. daunnya tidak memiliki jaringan palisade

4. Variabilitas Genetic
Jika perbanyakan dilakukan untuk perbanyakan bukan dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Apabila terjadi banyak variasi genetik maka hal itu akan menjadi kendalan biasanya hal ii terjadi karena :

a. laju multipikasi yang tinggi krena terjadi subkultur berulang yang tidak terjadinya subkultur yang tidak terkontrol

b. penggunaan teknik yang sesuai

5. Pertumbuhan dan Perkembangan
Masalah dalam pertumbuhan eksplan adalah apabila tanaman mmengalami stagnasi. Untuk mencegahnya maka menggunakan bahan tumbuh yang tidak juvenile atau tidak meristematik.

6. Praperlakuan
Praperlakuan dilakukan dalam rangka menghilakan berbagai hambatan yang mungkin muncul, seperti hambatan kemikalis, fisis, biologis. Untuk menangani hambatan yang berupa bahan kimia harus dimulai dengan mengenali senyawa aktif yang ada dalam media, potensi gangguan, proses reaksi, dan alternative pengelolaannya.

7. Lingkungan Mikro
Lingkungan inkubator harus diperhatikan. Terutama pada suhu lingkungan inkubator. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan eksplan pada botol.
20.37 | 0 komentar | Read More

6 Teknik Isolasi Meristem Kentang

Di postingan sebelumnya saya sudah membahas tentang meristem pada anggrek, nah pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang meristem pada tanaman kentang.

Teknik Isolasi Meristem Kentang

Persiapan bahan tanaman :

1. umbi kentang yang memiliki bobot 30 gram/buah atau umbi yang besar yang besar dipotong dengan berat 20 gram/buah dengan beberapa mata

2. umbi direndam dala 0,03 μm GA3 selama 1 jam

3. umbi diletakan pada pasir yang lembab

4. tunas yang 3-5 cm dipergunakan sebagai bahan awal isolasi meristem

5. tunas dicuci bersih menggunakan diterjen damn disterilkan dalam larutan chlorox 20% selama 7 menit, direndam lagi dalam larutan chlorox 10% selama 10 menit, dibilas dengan aqudes steril. Tunas dipindahkan ka cawan petri steril. Bagian jaringan meristem tunas diambil dengan cara seperti pada pengambilan jaringan meristem kedelai. 

6. media yang digunakan adalah MS + 1 g/L Bactotryptone. Botol disimpan dalam inkubator pada suhu 25o C, panjang penyinaran selama 12 jam/hari, intensitas cahaya 150 lux selam 7 minggu. Plantula yang telah dihasilkan diuji dengna uji elisa. Bila bebas dari virus , plantula dapat disubkultur dengan memotong-motong 1 buku/eksplan, dipindakan kemedia MS + 0,001 mg/L. prosedur diulang tiap 20 hari untuk mendapatkan plantula dalam jumlah banyak
12.19 | 0 komentar | Read More

Teknik Isolasi Meristem Anggrek Cymbidium

Written By Fokus Agrobisnis on Rabu, 15 Februari 2012 | 22.37

Cymbidium dapat dikultur dengan beberapa media, seperti media Vacint & Went, Muller & Morel, MS 1/2 atau Knudson C. tanama ini dapat ditanam dalam media cair (botol kultur diletakkan diatas shaker dengan pengocokan) ataupun padat dengan penambahan agar-agar 0,8%, isolasi bahan tanaman :

1. pucuk cymbidium dipotong sepanjang 3 cm. daun-daun yang menyelubungi dibuang. Pucuk ddirendam dalam alcohol 70% selama 2 menit, dilakukan 2x, dan kemudian dibilas dengna aqudes steril.
2. pucuk direndam dalam larutan chlorox 20% selama 5 menit, dibilas dengan air steril 2-3 kali dan selanjutnya direndam kembali kedalam larutan chlorox 10% selama 10 menit. Pucuk dibilas denga aquades steril dan diletakkan dalam cawan petri.
3. jaringan meristem yang berbentuk kubah (dome) diambil sekitar 0,5 mm dari titik tumbuh dengan 2 calon daun. Jaringan meristem diletakkan didalam air steril dalam cawan petri. Jaringan tersebut kemudian dipindahkan pada media dalam botol kultur.
4. tahapan kultur

kultur meristem anggrek dapat dibagi menjadi 3 tahapan yang berkesinambungan, yaitu :
a. inokulasi eksplan dan pembentukan protocorm awal
b. perbanyakan protocorm
c. pembentukan calaon tanaman sempurna

pada tahap pertama, eksplan diinokulasi ke dalam media cair. Botol kultur dikocok terus menerus menggunakan shaker hingga eksplan membentuk protocorm. Shaker kemudian diletakkan dalam ruangan dengan suhu 22o C dengan pencahayaan 100 fc.

Tahap kedua, perbanyakan protocorm, yaitu dengan memotong-motong protocorm dan dipindahkan dalam media segar. Tahap kedua memakan waktu 2 bulan. Media yang digunakan dan pengocokannya sama seperti tahapan pertama.

Tahap ketiga adalah memperoleh calon tanaman sempurna (bibit), yaitu dengan perakaran tunas. Protocorm dari tahap kedua dipanen dan diambil yang berukuran 0,5 cm (satu eksplan satu protocorm). Protocorm yang masih belum mencapai ukuran tersebut ditinggalkan dalam botol kultur untuk diperbanyak lagi. Protocorm dewasa dipindahkan dalam media padat sehingga membentuk akar dan tunas. Bila plantula telah terbentuk sempurna maka dapat diaklimatisasi untuk dipindahkan kelapangan.

Dikutip dalam buku “kultur jaringan skala rumah tangga” oleh Nurheti Yuliarti
22.37 | 0 komentar | Read More